Kamis, 31 Juli 2008
P E N G U M U M A N
1. Gatot Prabantoro, SE, M.Si
Marketing Syariah. Oleh: Hermawan Kertajaya
Kamis, 7 Agustus 2008
2. Arwinsyah, SE
The Dream Manager, by Matthew Kelly
Kamis, 14 Agustus 2008
3. Etharina, SE, M.Si.
Essai-Essai Nobel Ekonomi
Kamis, 28 Agustus 2008
Seperti bedah buku sebelumnya, acara ini akan dilakukan:
Waktu : Jam 10 s/d selesai
Tempat : Ruang 201A
Demikian undangan ini kami sampaikan, dengan harapan peserta akan semakin banyak dari waktu-waktu sebelumnya.
Ketua Panitia
Hamsar Lubis
Rabu, 09 Juli 2008
P E R H A T I A N .....!!!!!!!!!!
Dulu sudah ada kelompok dosen laki-laki dan dosen perempuan (masing-masing satu kelompok) yang ingin melakukan penelitian. Sekarang kelompok tersebut hilang lenyap, tidak tahu sampai dimana prosesnya. Bagian Penelitian tetap memfasilitasi Bapak/Ibu yang ingin melakukan penelitian dan belajar menulis. Alangkah hebatnya kalau dosen-dosen STEI banyak yang menjadi peneliti dan penulis. Ekstra income-pun akan terus mengalir. Saya sudah gak sabar untuk berbagi "kenikmatan" menulis dengan Bapak/Ibu.
Untuk keperluan tersebut, Bagian Penelitian telah membangun data base. Laporan-laporan yang sudah tersedia di bagian Penelitian antara lain:
(1). Indonesian Capital Market Directory (5 tahun berturut-turut)
(2). Indikator Ekonomi (BPS, Laporan Triwulanan, 2007, 4 edisi)
(3). Statistik Ekonomi Keuangan Indonesia (SEKI), BI, 4 edisi)
(4). Indikator Industri, BPS (5 tahun terakhir).
Bapak/Ibu dapat memanfaatkan data tersebut di Bagian Penelitian. Sayang sekali kalau referensi-referensi bagus ini tidak dimanfaatkan untuk mencari rejeki tambahan yang halal. Demikian himbauan ini disampaikan, dengan tujuan agar saling mengingatkan kita kembali.
Wassalam
Hamsar Lubis
Kabag Penelitian
Selasa, 08 Juli 2008
BIJI KELAPA SAWIT SEBAGAI BAHAN BAKAR ALTERNATIF (Oleh: Hamsar Lubis)
Penggunaan biji sawit sebagai bahan bakar memasak harus memakai peralatan tungku atau anglo. Tempat memasak ini terbuat dari tanah liat dan jika dipanaskan, akan memantulkan panas kembali. Mekanisme ini dapat menghasilkan panas yang optimal dan menghemat pemakaian bahan bakar. Untuk menyalakan api pertama kalinya, bahan bakar biji sawit memang perlu dipancing, misalnya dengan minyak tanah. Lebih repot sedikit daripada gas atau minyak tanah yang dapat langsung dinyalakan.
Biji sawit menghasilkan api yag berwarna biru, panas dan tidak berasap seperti kayu bakar, namun tidak sepanas api briket batu bara, yang dapat memerpendek umur teknis alat-alat memasak. Kualitas apinya mendekati api yang dihasilkan oleh gas. Oleh karena itu, biji sawit sangat layak menjadi bahan bakar pengganti minyak tanah dan gas.
Sebagai bahan bakar nabati, dampak polusi dari proses pembakaran biji kelapa sawit relatif kecil. Dampaknya terhadap ligkungan dan kesehatan jauh lebih aman ketimbang kayu bakar. Kayu bakar menghasilkan asap, mengotori dapur dan dampaknya terhadap kesehatan setara dengan dampak negative asap rokok. Asap kayu bakar dapat membahayakan paru-paru bila terhirup bertahun-tahun oleh ibu-ibu yang memasak di dapur.
Ekonomis
Untuk memasak nasi dan lauk pauk secukupnya, jumlah biji sawit yang dibutuhkan sekitar 7 sampai 10 biji. Satu kilogram biji sawit tanpa tandan berjumlah sekitar 24 sampai 27 biji. Jadi, sekali memasak dibutuhkan sekitar setengah kilogram biji sawit. Harga biji sawit dengan tandan (tandan buah segar atau TBS) sekitar Rp1.600 sampai Rp1.700 per kilogram di pabrik kelapa sawit (PKS). Jika dimisalkan harga biji sawit per kilogram tanpa tandan sebesar Rp2.000, maka biaya sekali memasak sekitar Rp770. Harga minyak tanah dipatok oleh pemerintah dengan menetapkan harga eceran tertinggi (HET) sebesar Rp2.500 per liter. Namun, harga minyak tanah di tangan konsumen, terutama di daerah-daerah dapat mencapai 1,5 sampai 2 kali dari besarnya HET.
Bila dibandingkan dengan harga minyak tanah, maka sekali memasak dengan biji sawit setara dengan harga sepertiga liter minyak tanah. Sementara dibandingkan dengan harga elpiji yang mencapai Rp5.250 per kilogram, maka biaya sekali memasak dengan biji kelapa sawit sama dengan 10 persen dari harga satu kilogram elpiji.
Selain harga yang lebih mahal, masalah lain yang terjadi pada minyak tanah dan elpiji adalah kesulitan mendapatkannya. Pasca kenaikan harga BBM dan konversi minyak tanah ke elpiji yang terhitung gagal, maka yang terjadi di daerah-daerah adalah kehilangan minyak tanah dan elpiji tetap langka. Biji kelapa sawit sangat layak dipromosikan oleh pemerintah sebagai alternatifnya penggantinya. Subsidi yang besar pada minyak tanah dan elpiji akan dapat dihemat, jika biji sawit sebagai bahan bakar memasak telah memasyarakat.
Bila dibiarkan begitu saja (tanpa dijemur) maka biji kelapa sawit dapat bertahan selama dua bulan dan masih tetap layak menjadi bahan bakar. Oleh karena itu, distribusinya untuk daerah-daerah yang jauh dari wilayah perkebunan relatif mudah dengan membungkusnya dalam kemasan-kemasan kecil, misalnya satu kilogram atau setengah kilogram dalam kemasan plastik. Biji sawitpun dapat dijual di warung-warung dengan harga yang lebih murah dari minyak tanah.
Sebagai penghasil CPO terbesar di dunia dan pemilik lahan perkebunan sawit terluas di dunia, maka pasokan biji sawit sangat memadai. Masyarakat pun dapat menanam pohon kelapa sawit untuk berswasembada bahan bakar di tingkat rumahtangga. Setiap rumahtangga dapat menanam sekitar 2 sampai 3 batang pohon sawit di pekarangan rumah. Pohon kelapa sawit mudah tumbuh dimana-mana di daerah tropis. Sebuah pohon kelapa sawit dapat menghasilkan 2 TBS dalam sebulan dengan berat antara 20 sampai 30 kilogram per tandan. Dua batang pohon kelapa sawit sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar rumahtangga sendiri.
Kelapa sawit sebagai jenis pohon palm dapat pula menjadi tanaman perhiasan. Kelapa sawit berakar serabut, karenanya tidak menganggu tembok beton bangunan. Bahkan pohon kelapa sawit dapat ditanam di pinggir jalan sebagai pohon pelindung, di taman-taman kota sebagai pohon perhiasan, di ruang terbuka hijau dan di pinggir sungai sebagai penahan erosi.
Jika penggunaan biji sawit sebagai bahan bakar sudah meluas, ini juga membuka kesempatan pada petani kecil dengan lahan sempit untuk menanam kelapa sawit. Hasilnya untuk baha bakar rumahtangga, bukan untuk diolah menjadi CPO oleh PKS. Hasilnya dapat dipasarkan sendiri di warung-warung untuk keperluan bahan bakar. Selama ini kendala terbesar petani kecil untuk menanam kelapa sawit adalah ketiadaan PKS di daerah sekitarnya.
Tulisan ini telah terbit di Harian KONTAN, 7 Juli 2008.
Kamis, 03 Juli 2008
U N D A N G A N
Hari/tanggal : Kamis, 10 Juli 2008
Tempat : Kampus A (Ruang. 202)
Waktu : Jam 10.00 s/d selesai
Panitia mengharapkan kehadiran Bapak/Ibu dosen STEI tepat pada waktunya. Acara bedah buku merupakan acara resmi dan wajib untuk menambah dan memperluas wawasan dosen. Daripada membeli buku sendiri, baca sendiri, bosan sendiri dan capek sendiri, lebih baik datang ke acara ini. Isi sebuah buku akan dipaparkan oleh Bu Doddi dalam waktu sekitar 1,5 sampai 2 jam. Dengan mengikuti acara bedah buku secara rutin, Insyaallah pengetahuan kita bertambah setara dengan dua buah buku setiap bulan.
Ketua Panitia
Hamsar Lubis
Sikap Dosen
1. TEPAT WAKTU alias ON TIME.
Ini adalah kesan pertama yang paling menonjol, mereka mengawali dan mengakhiri perkuliahan tepat dengan waktu yang ditentukan, tidak kurang dan tidak lebih, (sesi pertama 1,5 jam, istirahat 30 menit, dilanjutkan sesi kedua 1,5 jam). Dan mereka akan minta maaf kalo waktu perkuliahan lebih dari yang dijadwalkan, misalkan kelebihan 3 menit. Mereka sangat ketat soal waktu, jadi materi perkuliahan disampaikan secara efektif dan sesuai dengan alokasi waktunya. Dan kita diberikan workshop khusus tentang bagaimana cara presentasi yang baik dan tepat waktu, serta dilatih menggunakan alat2 presentasi, karena sebagian besar ujiannya selain ujian tulis juga oral defense dan presentasi. (Di sini tiap detik sangat berarti, apalagi dalam hal transportasi, kalau perlu pakai jam tangan yang digital, karena jawdal bus atau kereta nya agak2 kurang enak dibaca hehehe, misalkan jam 10.56 atau 11.01 dll).
2. TERSEDIA BAHAN AJAR
Setiap dosen mempunyai modul perkuliahan atau buku karangan mereka atau paling tidak slide berisi materi kuliah yang akan disampaikan, jadi mahasiswa diharapkan membaca atau mempelajarinya sebelum perkuliahan, sehingga nantinya ada proses diskusi (komunikasi 2 arah) selama proses belajar mengajar berlangsung. Dan memang terjadi proses diskusi yang seru dan kalau waktunya tidak memungkinkan, pertanyaannya bisa disampaikan by email atau ke ruangannya. Informasi apa saja yang berkaitan dengan mata kuliah (tugas, materi) yang bersangkutan diinformasikan melalui “Blackboard” atau melalui email mahasiswa (student mail). Jadi setiap hari kita harus sering-sering mengecek email dan blackboard . Karena banyaknya tugas membuat tulisan atau report lengkap, sehingga mereka juga memberikan workshop khusus “How to write a scientific report”.
3. SELALU ADA atau HADIR
Hadir di sini bukan berarti ada secara fisik di kampus terus menerus, mereka jarang ada di tempat, karena sering mengikuti conference-conference atau seminar international. Tapi ini tidak menjadi halangan untuk tidak berkomunikasi dengan mahasiswanya, karena fasilitas laboratorium komputer dan internet di wilayah kampus tersedia di setiap sudut kampus, jadi komunikasi lebih efektif menggunakan email. Dan saya sangat terkejut, karena seringkali mereka menjawab email2 saya dengan cepat (terkadang tidak sampai 5 menit, seperti membalas ‘sms’ saja, yah…internet sudah menjadi kebutuhan dasar, sering On Line terus). Biasanya dosen senior (yang sudah Professor dengan jam terbang tulisan ilmiahnya banyak, malah semakin cepat membalas email kita). Terkadang mereka tidak tanggung2 untuk memberikan file tulisan atau pappernya jika memang menyangkut masalah yang kita tanyakan).
Tiga hal di atas adalah hal yang berkesan buat saya selama kuliah di negri orang, kenapa berkesan bagi saya, karena ketiga hal tersebut masih jauh dari yang saya lakukan selama ini, mungkin sebagian besar teman-teman di STEI sudah banyak menerapkannya selama mengajar, pasti perkuliahan berjalan efektif dan lancar.
Tapi perlu dicatat juga bahwa disini tidak semuanya baik, ada juga kelemahannya, gaya hidup masyarakat eropa yang cenderung bebas, membuat satu hal yang luput dari perhatian para dosen, yaitu “memberi nasehat atau mengingatkan mahasiswa tentang
Kita ambil positifnya dan kita tinggalkan yang negatifnya, dan satu lagi percaya dirilah bahwa sebagai anak bangsa Indonesia kita punya kemampuan yang sama dengan "mereka", karena sering kali kita memandang para "bule" jauh lebih tinggi dari kita, setelah tinggal disini ya...tidak jauh beda, cuma bedanya mereka memang terbiasa disiplin (ini yang mungkin harus kita contoh).