Selasa, 08 Juli 2008

BIJI KELAPA SAWIT SEBAGAI BAHAN BAKAR ALTERNATIF (Oleh: Hamsar Lubis)

Jika di Negara-negara maju, CPO (crude palm oil) diolah menjadi biodiesel, maka di berbagai daerah di Indonesia, biji sawit dijadikan sebagai bahan bakar secara langsung untuk memasak. Biji kelapa sawit dapat menggantikan peran minyak tanah, kayu bakar maupun gas sebagai bahan bakar untuk keperluan memasak. Biji kelapa sawit dapat dibakar secara langsung, tanpa harus mengolahnya terlebih dahulu menjadi biodiesel. Sabut kelapa sawit mengandung minyak nabati yang diolah menjadi CPO. Tempurungnya sama dengan tempurung kelapa dan bahan bakar yang baik. Dagingnya sendiri mengandung minyak inti sawit. Mulai dari kulit luar hingga daging kelapa sawit berpotensi menjadi bahan bakar. Biji kelapa sawit cukup dikeringkan sedikit agar lebih mudah menyala, tetapi jangan terlalu kering agar tidak cepat habis.

Penggunaan biji sawit sebagai bahan bakar memasak harus memakai peralatan tungku atau anglo. Tempat memasak ini terbuat dari tanah liat dan jika dipanaskan, akan memantulkan panas kembali. Mekanisme ini dapat menghasilkan panas yang optimal dan menghemat pemakaian bahan bakar. Untuk menyalakan api pertama kalinya, bahan bakar biji sawit memang perlu dipancing, misalnya dengan minyak tanah. Lebih repot sedikit daripada gas atau minyak tanah yang dapat langsung dinyalakan.

Biji sawit menghasilkan api yag berwarna biru, panas dan tidak berasap seperti kayu bakar, namun tidak sepanas api briket batu bara, yang dapat memerpendek umur teknis alat-alat memasak. Kualitas apinya mendekati api yang dihasilkan oleh gas. Oleh karena itu, biji sawit sangat layak menjadi bahan bakar pengganti minyak tanah dan gas.

Sebagai bahan bakar nabati, dampak polusi dari proses pembakaran biji kelapa sawit relatif kecil. Dampaknya terhadap ligkungan dan kesehatan jauh lebih aman ketimbang kayu bakar. Kayu bakar menghasilkan asap, mengotori dapur dan dampaknya terhadap kesehatan setara dengan dampak negative asap rokok. Asap kayu bakar dapat membahayakan paru-paru bila terhirup bertahun-tahun oleh ibu-ibu yang memasak di dapur.

Ekonomis

Untuk memasak nasi dan lauk pauk secukupnya, jumlah biji sawit yang dibutuhkan sekitar 7 sampai 10 biji. Satu kilogram biji sawit tanpa tandan berjumlah sekitar 24 sampai 27 biji. Jadi, sekali memasak dibutuhkan sekitar setengah kilogram biji sawit. Harga biji sawit dengan tandan (tandan buah segar atau TBS) sekitar Rp1.600 sampai Rp1.700 per kilogram di pabrik kelapa sawit (PKS). Jika dimisalkan harga biji sawit per kilogram tanpa tandan sebesar Rp2.000, maka biaya sekali memasak sekitar Rp770. Harga minyak tanah dipatok oleh pemerintah dengan menetapkan harga eceran tertinggi (HET) sebesar Rp2.500 per liter. Namun, harga minyak tanah di tangan konsumen, terutama di daerah-daerah dapat mencapai 1,5 sampai 2 kali dari besarnya HET.

Bila dibandingkan dengan harga minyak tanah, maka sekali memasak dengan biji sawit setara dengan harga sepertiga liter minyak tanah. Sementara dibandingkan dengan harga elpiji yang mencapai Rp5.250 per kilogram, maka biaya sekali memasak dengan biji kelapa sawit sama dengan 10 persen dari harga satu kilogram elpiji.

Selain harga yang lebih mahal, masalah lain yang terjadi pada minyak tanah dan elpiji adalah kesulitan mendapatkannya. Pasca kenaikan harga BBM dan konversi minyak tanah ke elpiji yang terhitung gagal, maka yang terjadi di daerah-daerah adalah kehilangan minyak tanah dan elpiji tetap langka. Biji kelapa sawit sangat layak dipromosikan oleh pemerintah sebagai alternatifnya penggantinya. Subsidi yang besar pada minyak tanah dan elpiji akan dapat dihemat, jika biji sawit sebagai bahan bakar memasak telah memasyarakat.

Bila dibiarkan begitu saja (tanpa dijemur) maka biji kelapa sawit dapat bertahan selama dua bulan dan masih tetap layak menjadi bahan bakar. Oleh karena itu, distribusinya untuk daerah-daerah yang jauh dari wilayah perkebunan relatif mudah dengan membungkusnya dalam kemasan-kemasan kecil, misalnya satu kilogram atau setengah kilogram dalam kemasan plastik. Biji sawitpun dapat dijual di warung-warung dengan harga yang lebih murah dari minyak tanah.

Sebagai penghasil CPO terbesar di dunia dan pemilik lahan perkebunan sawit terluas di dunia, maka pasokan biji sawit sangat memadai. Masyarakat pun dapat menanam pohon kelapa sawit untuk berswasembada bahan bakar di tingkat rumahtangga. Setiap rumahtangga dapat menanam sekitar 2 sampai 3 batang pohon sawit di pekarangan rumah. Pohon kelapa sawit mudah tumbuh dimana-mana di daerah tropis. Sebuah pohon kelapa sawit dapat menghasilkan 2 TBS dalam sebulan dengan berat antara 20 sampai 30 kilogram per tandan. Dua batang pohon kelapa sawit sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar rumahtangga sendiri.

Kelapa sawit sebagai jenis pohon palm dapat pula menjadi tanaman perhiasan. Kelapa sawit berakar serabut, karenanya tidak menganggu tembok beton bangunan. Bahkan pohon kelapa sawit dapat ditanam di pinggir jalan sebagai pohon pelindung, di taman-taman kota sebagai pohon perhiasan, di ruang terbuka hijau dan di pinggir sungai sebagai penahan erosi.

Jika penggunaan biji sawit sebagai bahan bakar sudah meluas, ini juga membuka kesempatan pada petani kecil dengan lahan sempit untuk menanam kelapa sawit. Hasilnya untuk baha bakar rumahtangga, bukan untuk diolah menjadi CPO oleh PKS. Hasilnya dapat dipasarkan sendiri di warung-warung untuk keperluan bahan bakar. Selama ini kendala terbesar petani kecil untuk menanam kelapa sawit adalah ketiadaan PKS di daerah sekitarnya.

Tulisan ini telah terbit di Harian KONTAN, 7 Juli 2008.

2 komentar:

harries hidayat mengatakan...

aku ini tinggal di Bekasi, bgmn mencari biji kelapa sawit. pabrik kelapa sawit di Bekasi dimana ya..??. belum lagi ongkos trasportasi ke PKS-nya berapa. apa sudah dihitung secara masak pak Hamsar. Hitungan saya untuk wilayah DKI dan Sekitarnya penggunaan Elpiji 3 Kg atau 12 Kg jauh lebih efisien dibandingkan dgn BBM atau kayu bakar, selain faktor kebersihan (tidak kotor rumah kita).

Hamsar Lubis mengatakan...

Memang biji sawit hanya cocok untuk di daerah-daerah yang memiliki perkebunan sawit. Kalau di kota-kota besar, bagusnya pake elpiji. Ini hanya sebagai alternatif. Pilih yang pas aja, sesuai dengan tempat, harga dan ketersediaan.